Jumat, 16 Juni 2017

Hidup Bukan Perjuangan

       
Life is a journey, not a destination.

Pertama kali membaca kutipan di atas di buku diary adik, saya merasa : "keren banget sih kutipan". Apalagi adik saya ini seorang pencinta alam, yang suka menghabiskan masa liburannya mendaki gunung - gunung di nusantara, makin klop saja jadinya.

Namun setelah bertahun - tahun, saya rasa kutipan ini tidak hanya milik para pencinta alam saja, tapi semua orang. Bukankan kita semua sedang dalam "perjalanan"?

Penafsiran saya tentangnya, apa pun yang kita pilih dalam hidup ini adalah sebuah perjalanan; sebuah proses bukan destinasi atau milestone. Waktu kecil ketika belajar ngaji saya berfikir kalau saya sudah sampai surat An-Nas, surat ke-114 di kitab suci Al-Qur'an maka saya sudah selesai. Saya tidak perlu mengaji lagi. Ternyata saya salah, ketika khatam, saya mengulangi lagi dari Al-fatihah terus sampai khatam lagi. Saya lakukan itu sampai sekarang dan mudah - mudahan sampai saya meninggal. Jadi pengertian "perjalanan" di sini, menurut saya kita harus hidup bersamanya.

Begitu juga dalam pekerjaan. Ketika kita menerapkan sistem maka kita harus hidup di dalamnya. Ketika di kantor menerapkan 5R saya  tidak bisa menjawab (tepatnya saya berfikir mengapa dia bertanya seperti itu) ketika ada yang komplen : Pak ini kita 5R lagi?" Waktu itu saya mengingatkan kegiatan 5R lagi.

Dia bertanya seperti itu, karena dia sudah melakukan R1 yaitu ringkas. Hanya barang yang diperlukan saja yang ada di tempat kerja dan tidak berlebihan jumlahnya. Menurut saya, dia berfikir 5R itu tujuan, bukan perjalanan. Kalau sudah ini ya sudah selesai. Kalau kita berfikir ini perjalanan, maka ya tidak ada selesai - selesainya. Kita hidup bersamanya. Kalau R1 sudah selesai, kita lanjut ke R berikutnya. Kalau sudah R5, balik lagi. Kita lakukan improvement dan seterusnya. Seperti halnya mengaji buat saya.


Bagaimana "perjalanan" Anda saat ini?

Sabtu, 21 Januari 2017

Tipe Asisten

Pada waktu kuliah di kimia dulu saya berhasil menyimpulkan ada 2 tipe asisten.
1. Asisten beneran
2. Asisten namanya saja

Kalau asisten beneran, sibuk membantu praktikannya agar mengerti tujuan dari percobaan yang dilakukannya. Mereka mau membahas lebih dalam teori dan pembahasan hasil dari percobaan. Sampai - sampai waktuya tidak cukup untuk membahasnya.

Kalau asisten namanya saja biasanya sibuk membahas format laporan, jenis kertas yang digunakan, ukuran kertas, spasi berapa, margin kanan-kiri-atas-bawah (untuk gak pake depan-belakang) sehingga sedikit waktu untuk membahas teori dan pembahasan hasil percobaannya.

Karena saya tahu kualitas diri saya, maka saya cuma menjadi asisten praktikum kimia dasar saja. Itu juga hanya satu semester saja.

Kamis, 19 Januari 2017

Status Offline

Bicaralah padaku kawan, tanpa perlu merasa di-duakan. Aku tak akan menengok smartphone-ku walau pun ada bunyi notifikasi SMS dan Whatsapp bersahutan, karena aku yakin karena kalau ada sesuatu yang urgent akan menelpon (dan biasanya hanya istriku yang menelponku he he he). Dan for your information aku sudah menonaktifkan notifikasi facebook, twitter, instagram, G+, linkedin dan pinterest. Kalau path sudah tidak dihitung, sejak dibeli Bakrie.

Tenang, aku juga tidak akan mengambil foto kita berdua ketika dalam pembicaraan yang kemudian meng-upload di social media dan membuat caption yang rame - rame tapi sepi dalam off line. Karena memang aku ingin menikmati kebersamaan yang utuh antara jasad, fikiran dan perasaan di tempat kita sekarang bertemu. Bukan di tempat lain. Bukan di alam lain.

Selasa, 27 September 2016

Permainan Tempat dan Waktu

Kemarin seorang kawan menjelaskan mengenai bagaimana melihat "posisi" seorang sales. Seorang sales itu hidup dalam dua koordinat performance sales sebagai sumbu y dan competency sebagai sumbu x-nya.

Dengan kondisi seperti itu akan muncul fakta menarik sebagai berikut : ada orang yang competency-nya tinggi tetapi performance salesnya rendah begitu juga sebaliknya.

Competency tinggi, tetapi performance sales rendah, bisa jadi sang sales mendapatkan daerah yang kering. Begitu juga sebaliknya, performance salesnya tinggi padahal kompetensinya rendah. Kalau yang ini benar - benar mendapatkan daerah yang basah (banjir malah). Kalau pun botol yang ditaruh di situ, performance salesnya tetap tinggi.

Begitu juga hidup seperti itu adanya. Melihat kondisi kita sekarang, kalau pencapaian hidup kita tinggi, kita perlu mawas diri dan ketika pencapaian kita kecil, kita jangan buru - buru berkecil hati. Karena hidup hanyalah permainan tempat dan waktu. Bisa jadi kita berada di tempat dan waktu yang "salah" sehingga pencapaiannya tidak sesuai dengan kompetensi kita. Kita hanya diminta untuk terus bekerja, menambah dan meningkatkan kompetensi hidup kita. Masalah hasil ada yang menilainya. Hingga pada akhirnya akan memberikan hasil yang kita harapkan. Karena hasil tidak pernah mengkhianati prosesnya. Ini juga kata teman saya. Keren juga dia ya :)

Senin, 25 Juli 2016

Penonton Biasanya (Merasa) Lebih Pintar Dibandingkan Dengan Pemain

Penonton Biasanya (Merasa) Lebih Pintar Dibandingkan Dengan Pemain
Penonton sepak bola

Pekan lalu saya telah mendapatkan sebuah pencerahan (enlightment) dalam pekerjaan atau aktivitas sehari - hari. Ada perbedaan besar antara yang mengerjakan dan mengawasi atau antara yang main dengan yang menonton.

Seorang staff telah menjelaskan sejauh mana bedanya itu. Kebetulan dia pernah menjalani dua posisi tersebut. Ketika dia menjadi seorang pengawas (controller, auditor) dia bisa dengan mudah melihat celah dan kesalahan para pelaksana yang diawasi atau diaudit olehnya.

Kemudian dia baru "kena batunya" ketika harus menjadi pejabat sementara (PJS) sebuah jabatan. Kali ini dia bertindak sebagai pelaksana. Dia merasakan sulitnya sebagai pelaksana. Apa - apa yang dahulu terlihat mudah ketika di posisi pengawas menjadi sulit ketika ketika mengerjakannya sendiri. Ternyata tidak mudah ya, begitu akunya. Setelah itu dia bisa lebih berempati kepada mereka - mereka yang sebagai pelaksana.

Sebenarnya hal ini pernah terjadi juga di sebuah perusahaan. Untuk mengisi kekosongan beberapa posisi kepala cabang, maka diambilah para penggantinya dari internal auditor yang biasa mengaudit kinerja cabang. Hal ini berdasarkan asumsi, kalau bisa mengaudit tentu bisa mengerjakan karena sudah paham betul kinerjanya. Teorinya seperti itu namun kenyataannya setelah para internal auditor ini menjadi kepala cabang, tidak serta merta mereka bisa jess langsung bekerja. Ternyata mereka "sama payahnya" dengan para kepala cabang yang dahulu mereka audit. Mereka tersandung juga dengan temuan - temuan yang sama dengan mereka temukan ketika mereka menjadi internal auditor.

Lantas hikmahnya apa saya menuliskan ini? Sebelum kita mengkritisi atau menilai orang lain, mengenai apa pun dan di bidang apa pun, pertama - tama kita bertanya : bagaiamana kalau saya di posisi tersebut? Bagaimana kalau saya yang menjadi pemain? Karena biasanya penonton biasanya selalu merasa lebih pintar dibandingkan dengan yang main.

foto : mxmstyro


Kamis, 09 Juni 2016

Mengapa Anak Kimia Tidak Ada Yang Menjadi Teroris?

mengapa anak kimia tidak ada yang menjadi teroris

Alhamdulillah saya pernah kuliah di ITB. Kalau mendengar nama ITB itu identik dengan teknik. Namanya juga ITB. Institut Teknologi Bandung (eh mana tekniknya? He he he).

Nah karena teknik itu dianggapnya seputaran mesin dan listrik, hingga suatu hari seorang karyawan perpustakaan minta tolong ke saya :
"Mas tolong benerin kalkulator saya dong." Pintanya.
"Maaf Mbak saya enggak bisa." Jawab saya.
"Kan kuliah di ITB. Masak gak bisa benerin?"
......... Saya enggak bisa jawab apa - apa.

Saya sempat kuliah di departemen kimia (dulu biasa jurusan kmia). Kuliah di kimia juga mempunyai cerita sendiri. Biasanya kita, atau mungkin saya (jujur aja), kadang-kadang suka inferior complex begitu sama anak teknik.
Kalau ada orang yang nanya: "Kuliah di mana?"
Kita menjawabnya dengan suara nyaris tak terdengar: "Kimia."
"Apa? Teknik kimia?" Yang bertanya, mengulangi pertanyaannya dengan suara yang lebih keras.
"Bukan. Kimia murni*," jawab saya lebih pelan lagi.
"Oooo..."
Setelah itu selesai semua.

Kenapa orang selalu menebak teknik kimia, setiap kita jawab kuliah di kimia?
Kenapa ya?
Ya mungkin karena teknik kmia lebih populer di sini. Sebagian kita memilih kuliah di kimia, karena tidak diterima di teknik atau menghindari tidak suka matematika.**

Terus kalau dibilang jurusan kimia. Wajah mereka langsung berubah dan menatap tajam ke arah kita.
"Hmm...kimia. Jadi dosen, peneliti, guru, kerja di lab. Titik!" Begitulah kira - kira pandangannya. Memang kalian tidak ngomong begitu, tapi kata - kata itu terpampang besar - besar di wajah kalian.

Seolah - olah seperti tidak mungkin seorang lulusan kimia bekerja di luar bidang itu. Seperti pengalaman teman saya yang bekerja perusahaan teknik dan rekayasa. Biasanya kliennya tidak percaya kalau dia bilang lululusan kimia. "Masak sih anak kimia mengambil lahannya anak teknik?" Begitu mungkin kira - kira dalam fikiran mereka.

Padahal Margaret Thatcher salah satu PM Inggris itu lulusan kimia Oxford. Jangan - jangan dia mundur diri dari partainya bukan karena kebijakannya yang konservatif dan kepemimpinannya yang keras. tapi gara - gara karena diteror terus - terusan.
"Ibu Margaret Thatcher kan lulusan kimia. Harusnya jadi dosen, peneliti, guru dan kerja di lab. Bukannya jadi perdana mentri."

Oleh sebab itu, mungkin tidak akan ada teroris lulusan kuliah kimia.
"Hai, bro nanti kalau bisnya lewat kita ledakkan jembatannya." Kata si teroris A kepada temannya yang kita sebut saja si teroris B.
"Iya." Jawab teroris B.
"Ngomong- ngomong Bro dulu seolah di mana? Jago banget bikin bom."
"Kimia."
"Apa? Teknik kimia?"
"Bukan kimia murni."
Teroris A langsung melihat tajam ke teroris B. langsung lihat:
Hmm kimia ya. Jadi dosen, peneliti, guru atau kerja di lab. Titik!

Setelah itu selesai semua.


sumber foto : rdecom


*Biasanya untuk membedakan dengan teknik kimia, biasanya kimia di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam disebutnya kimia murni. Kimia yang ada manis - manisnya enggak ada teknik - tekniknya gitu

** Ada seorang dosen matematika yang menuduh berpendapat begini ketika memberikan kuliah kalkulus di anak - anak kimia. Kalau saya sih tidak setuju. Saya tidak kefikiran masuk matematika dan saya memang tidak suka matematika hehe.

Selasa, 02 Februari 2016

Menuju Pulang

Ketika hari menjelang gelap semuanya berkeliaran menuju jalan pulangnya.

Setiap orang sudah mempunyai rute masing masing. Semuanya.

Ada yg rutenya cepat dan mudah, ada juga yg rutenya panjang dan lama.

Namun ada yang rutenya awalnya mudah, harus balik arah, harus cari rute baru karena ada gangguan atau perbaikan jalan. 

Ada yang rutenya panjang dan lama, tiba - tiba menjadi mudah dan lancar tanpa ada kemacetan.

Semudah atau sesulit jalan menuju pulang; sependek atau sepanjang rute menuju rumah, semuanya pasti akan kembali. Semuanya. Tidak ada yang tidak pulang.

Yang mudah dan lancar menjemput tidur dengan senang dan lepas. Mimpi indah bukan mimpi lagi.

Yang sulit dan panjang menghadapi tidur dengan kecapekan dan gelisah. Mimpi pun jadi buruk.

Mau mimpi indah atau buruk, semuanya harus bangun pagi pagi untuk bertemu Sang Pemilik Pulang.

Selasa, 09 September 2014

Mau Dibawa Kemana Hubungan Kita?


(Suatu konsep nilai IAKI ITB)
Ditulis oleh: Sahabat Kang Jaja

Suatu organisasi berkurun lama ada kalanya mengalami krisis nilai. Dalam bahasa lain:Mau dibawa kemana? Terkadang muncul lagi pertanyaan-pertanyaan turunannya: Apakah mau dibawa ke arah komersil?, politik?, dan sebagainya. Jika sedemikian beragamnya pertanyaan seperti itu, hanya ada dua kemungkinan, pertama,terputusnya komunikasi dan penghasratan nilai organisasi ke semua individu di dalamnya atau, kedua, bahwa tatanan nilai organisasi memang sudah tidak lestari lagi dalam setiap insan organisasi. Siapapun tidak menginginkan hal itu terjadi baik di masa kini maupun di masa yang akan datang. Tatanan nilai itu dibentuk dari keyakinan atas kebermanfaatan, dan tujuan bersama dalam membentuk organisasi. Tatanan nilai ini kemudian dituangkan dalam visi, misi, dan tujuannya. Maka semua aktivitas organisasi diselaraskan dengan tatanan nilai ini.

IAKI ITB, sebuah organisasi yang menghimpun Alumni Kimia ITB kini perlu mengawali langkahnya dalam membentuk nilai-nilai organisasi yang sesuai dengan kebermanfaatannya. Selumrahnya suatu organisasi yang diberi nama “ikatan”, maka azas kekeluargaanlah yang dikedepankan. Maka  nilai kekeluargaanlah menjadi nilai organisasi serupa IAKI ITB. Dalam sebuah keluarga,  jika salah satu anggotanya sedang berbahagia, tentunya yang lain dengan serta merta ikut berbahagia, demikian sebaliknya jika salah satu anggotanya sedang tertimpa suatu kemalangan, maka yang lain ikut merasakan kesedihannya. Kita bisa melihat jika bermula dari rasa serupa ini, seorang anggota keluarga bisa tergerak untuk membantu yang lainnya walaupun hanya dengan apa yang dia miliki.

Dalam tatanan organisasi, rasa kekeluargaan ini bisa diwujudkan dalam nilai organisasi bernilai formal yaitu, visi, misi, dan strategi, hingga akhirnya menjadi program-program kerja. Untuk itulah perlu dirumuskan lagi suatu konsep organisasi yang menjelaskan nilai kekeluargaan ini. Suatu kerangka berpikir yang bisa dihasratkan kepada semua Alumni Kimia ITB. Kita bisa mulai dengan bahasa keluarga, yaitu “merasakan” dan “membantu”. Mari kita bersama-sama melihat bahwa  “Merasakan” dan “membantu” bisa diterjemahkan sebagai rumusan arus pelayanan sebagai suatu aktivitas utama organisasi IAKI dalam mewadahi . Rumusan arus pelayanan  ini muncul sebagai 3 mekanisme utama dalam kegiatan IAKI ITB yaitu pelayanan terhadapaspirasi, partisipasi, dan kontribusi. “Merasakan” diwujudkan dalam suatu mekanisme melayani “aspirasi”. “Membantu” diwujudikan dalam suatu mekanisme “partisipasi” dan “kontribusi”.  Ketiga mekanisme pelayanan inilah yang menjadi bagian yang utama dalam membentuk jaringan kekeluargaan alumni. Ketiga mekanisme inilah yang akan dikawal oleh nilai-nilai organisasi, kepemimpinan, profesionalitas kepengurusan, struktur organisasi, dan sumber-sumber daya produktif organisasi lainnya. Setelah itu, kita bisa melihat kerangka nilai organisasi ini yang melandasi visi dan misi organisasi IAKI ini. Secara grafis kerangka nilai organisasi dijelaskan dalam gambar berikut ini

Kerangka nilai organisasi ini diawali oleh adanya suatu arus pelayanan yang bisa mewadahi ikatan-ikatan sesama alumni selama ini. Arus pelayanan ini dimulai dari pelayanan terhadap aspirasi alumni. Aspirasi ini kemudian melalui suatu mekanisme yang baik akan dinilai oleh tim ahli yang terpercaya. Penilaian para ahli akan menghasilkan keputusan atas beberapa aspirasi yang bisa ditindaklanjuti  berdasarkan atas pertimbangan-pertimbangan: besarnya manfaat bagi alumni dan masyarakat, keterkaitan dengan kompetensi di bidang kimia dan industri kimia, serta  keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh organisasi maupun jaringan alumni. Penindaklanjutan aspirasi ini kemudian dilakukan dengan cara mengidentifikasi sumber-sumber daya pendukung yang dimiliki oleh jaringan alumni. Setelah itu dilakukan perencanaan, mobilisasi, dan implementasinya. Perencanaan, mobilisasi dan implementasi dilaksanakan sebesar-besarnya pemanfaatan kompetensi alumni Kimia ITB, inilah yang disebut dengan pelayanan terhadap partisipasi. Adapun kontribusi Alumni adalah akumulasi pencapaian-pencapaian aspirasi dan partisipasi yang telah dilaksanakan, suatu hasil dari kerja bersama.

Arus pelayanan ini kemudian harus dilaksanakan dalam suatu sistem pelayanan dan fasilitas pelayanan yang optimum. Dalam arti pengadaan pelayanan yang didasarkan pada utilitas yang sebesar-besarnya dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh organisasi. Untuk itu sistem pelayanan dan fasilitasnya perlu didukung oleh sistem yang bisa mengakses dan memberdayakan sumber-sumber produktif dalam jaringan alumni kimia, baik sumber finansial, bahan baku, keahlian, maupun intelektual. Dalam menjalankannya maka dibutuhkan struktur organisasi dengan rancangan fungsi yang tepat dan penempatan tenaga profesional dalam kepengurusannya. Sebagai pertimbangan yang baik, maka berikut ini karakteristik kepengurusan yang disyaratkan adalah : mempunyai pola pikir dan kerja yang professional, melayani, strategis, dan bisa bekerja secara tim.  

Kepemimpinan beserta komitmennya kemudian menjadi sebuah tagihan yang besar agar organisasi bisa dijalankan oleh kepengurusan dengan karakteristik demikian. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimanakah komitmen itu bisa secara jelas kita lihat dalam kepemimpinan? Seorang pemimpin yang mempunyai komitmen bisa membuktikan bahwa dirinya bisa mengerahkan sumber-sumber daya yang dimilikinya untuk tercapainya visi dan misi organisasi.

Ini adalah suatu pilihan kemana IAKI ITB akan dibawa. Kami berkeyakinan IAKI ITB bisa dibawa kembali kedalam ikatan kekeluargaan dan gotong royong. Kita bisa bekerja bersama dimasa yang akan datang untuk kemaslahatan bersama, karena kita menyadari bahwa kita mempunyai sebuah kewajiban untuk saling berbagi dan menolong, itulah yang kita sebut sebagai sebuah keluarga besar. Untuk itu kami menunggu aspirasi, partisipasi, dan kontribusi sahabat-sahabat  di masa mendatang.
IAKI ITB, quo vadis?