Senin, 18 Desember 2017

Makanan Paling Enak Sedunia

Di sebuah negeri, hiduplah seorang jutawan yang resah. Dia sedang merasa tidak enak makan. Semua makanan yang dihidangkan oleh para juru masaknya tidak membuatnya berselera. Padahal kokinya ini, konon katanya, jebolan master chef semua. Setiap maskan yang disajikan hanya dicoba satu dua sendok saja setelah itu dia tidak berselera untuk menghabiskannya.

Ketika berkonsultasi dengan dokter pribadinya, tidak ada gangguan apa-apa. Semuanya baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda sedang sakit. Namun mengapa sang jutawan hilang selera makannya?

Melihat kondisi sang kepala rumah tangga memerintahkan para juru masak untuk membuat makanan yang jauh lebih enak. Mencari resep makanan dari segala penjuru dunia. Mencari makanan dan minuman apa yang bisa menggugah selera makan sang tuan.

Mulailah para juru masak mencari-cari resep yang belum pernah mereka buat dan sajikan. Mereka mencari dengan bertanya ke seluruh chef di restauran-restauran ternama sedunia, memborong buku-buku resep dan mencoba membuat resep baru. Mereka bekerja siang dan malam terus-menerus demi sang tuan. Hingga pada suatu saat.

"Aku ingin makan."Kata sang jutawan memberi perintah ke kepala rumah tangga melalui interkom.
"Baik Tuan."Sebuah jawaban dari sana.

Biasanya dalam satu jam kemudian makanan sudah siap di meja makan, dan seorang pelayan akan memberi tahukannya dan dia pun akan dikawal seorang pengawal menuju ruang makan. Namun saat ini jam sudah satu jam lebih beberapa menit. Seorang pelayan pun belum datang.

"Ada apa ini?"Katanya dalam hati."Tidak seperti biasanya. Mungkin mereka sedang menyiapkan menu baru untukku."Kata sang jutawan dalam hati. Mencoba menghibur.

Satu jam sudah berlalu. Dua jam sudah berlalu. Sang jutawan merasakan sebuah gerakan di perutnya. Mula - mula hanya muncul sekali terus berhenti. Setelah itu muncul lagi. Dan terus-terusan.
"Rasa apa ini dalam perutku ini?"Kata sang jutawan."Dan aku belum makan juga dan sekarang sudah..."dia melihat jam tangan mahalnya.

"Apa? Aku hampir 3 jam belum makan!" Dia terkejut. Dia belum pernah mengalami seperti ini.
"Kepala Rumah Tangga! Cepat ke sini!" Teriaknya melalui interkom.
"Aa ada apa Tuan?"Sebuah jawaban penuh takut dari ujung sana.
"Pokoknya ke sini!"Bentak sang jutawan.

Tidak butuh 5 menit kepala rumah tangga sudah sampai. Kepalanya tertunduk, titik-titik keringat muncul di pelipisnya.
"Aku tadi  minta apa?"
"Makan tuan."
"Kenapa belum ada sampai sekarang?"
"Mmmm...anu tuan."
"Anu apa?"
"Anu."
"Hahhh."Sang jutawan kehilangan kesabarang. Dia berjalan menuju ruang makan. Kepala rumah tangga mengejarnya.
"Tunggu Tuan. Tunggu."
Sang jutawan terus berjalan.

Dia memasuki ruang makan. Dia lihat di meja makan. Semua piring dan mangkok sudah tersedia, namun tak ada makannya. Dia meradang. Dia berjalan dengan cepat menuju dapur. Kepala rumah tangga mengejarnya.

"Brak!!!" Sang jutawan membanting pintu dapur. Semua koki yang sedang memasak terkejut. Tak ada satu suara pun yang keluar kecuali bunyi panci dan penggorengan.
"Mana makanannya?"Tanya sang jutawan dengan marah.
"Masih dimasak, Tuan."Jawab kepala rumah tangga.

Sang merah mukanya giginya bergemeletakan. Namun dia tidak bisa apa-apa. Dia pandangi seluruh ruangan. Tiba-tiba pandangannya terhenti di sudut daput. Di situ ada sebuah meja kecil dan ada seorang koki sedang makan dengan lahapnya.
"Hei! Kamu di saat aku sedang lapar kamu, kamu enak-enakan makan."Kata sang jutawan marah.
Sang koki terdiam. Dia tidak meneruskan makannya. Dia tampak pasrah kalau pun harus dihukum atau dipecat sekalian.
"Kamu makan apa?"Bentak sang jutawan.
"Nasi rames."Jawab sang koki dengan pelan.
"Nasi apa?"
"Nasi rames Tuan."
"Apa itu nasi rames?"Tanya sang jutawan. Suaranya mulai turun.

Belum sang koki menjawab, sang jutawan mengambil kursi dan mengambil sendok. Buru-buru kepala rumah tangga dan sang koki berusaha mencegahnya.
"Jangan Tuan!!!"Kepala rumah tangga dan sang koki teriak bersamaan.

Namun terlambat, sesendok nasi rames sudah masuk ke mulut.
"Mati aku!" Kata sang koki.
"Habis ini aku dipecat."Kata kepala rumah tangga.

Sang jutawan mengunyah nasi rames tersebut. Dia ambil sesendok lagi. Dikunyah lagi. Ambil sesendok lagi sampai habis nasi rames di depannya.
"Wah, enak sekali nasi rames ini. Siapa yang masak?"Tanya sang jutawan.
Sang koki tidak menjawab. Koki-koki yang lain tidak menjawab. Apalagi kepala rumah tangga.
"Kok tidak ada yang menjawab? Bukan kamu yang memasaknya?"
"Bukan Tuan."
"Lantas dimana kamu mendapatkannya?"
"Di warteg depan Tuan."
"Kok bisa seenak ini ya?"Kata sang jutawan keheranan.
"Mungkin karena Tuan sedang lapar." Kata kepala rumah tangga.
"Oh ya? Aku baru tahu sekarang." Kata sang jutawan yang seperti mendapatkan pencerahan.

#DWC30
#Squad 1
#Jilid 10
#Day22

Minggu, 17 Desember 2017

Bakat Yang Saya Khianati

Selama ini ada satu bakat dalam diri saya yang telah "dikhianati" yaitu menggambar.

Saya mulai menggambar ketika mengenal sebatang pensil di usia lima tahun. Dan "kertas" pertamanya adalah dinding rumah kami. Hampir di setiap titik bisa dijumpai hasil karya saya. Selain itu saya suka menggambar di atas tanah dan pasir.

Ketika memasuki sekolah dasar saya suka sekali mengisi waktu dengan menggambar macam-macam. Sebelum bel masuk saya menggambar di buku tulis sambil diriungi teman-taman. Kalau sudah selesai mengerjakan tugas saya memilih untuk menggambar. Sampai ditegur guru karena aktivitas saya ini.

Di rumah juga begitu. Setiap ada kertas kosong saya gambari sesuatu. Saya pernah memaksa bapak ibu kakak dan adik saya saya buatkan sketsa wajahnya. Dan menonton acara menggambarnya Pak Tino Sidin adalah acara yang tidak boleh dilewatkan.

Menggambar mulai terlupakan ketika saya mempunyai prestasi yang lain. Saya selalu mendapatkan rangking di kelas dan mewakili sekolah untuk lomba IPA. Dan sejak itu pelan-pelan menggambar ini tidak pernah lagi mendapat perhatian serius dari saya. Saya tidak pernah mengasah lagi kemampuan menggambarnya.

Pernah ketika mendaftar kuliah saya mengingat kembali bakat saya yang "hilang" ini. Selain mencoba Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (sekarang namanya Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri) saya mencoba mendaftar ke fakultas seni rupa dan desain Institut Teknologi Bandung. Formulirnya sudah saya ambil, namun saya urang mendaftar karena saya berfikir kalau masuk FSRD keluarnya akan menjadi seorang seniman.

Dalam fikiran saya, mewakili masyarakat Indonesia waktu itu kalau menjadi seniman harus siap-siap miskin. Padahal saya ingin membahagiakan orang tua saya, salah satunya dari sisi materi. Maka saya tidak pernah mengikuti ujiannya.

Dan sekarang kemampuan saya ini hanya sebagai pengisi waktu kalau sedang jenuh dalam bekerja. Biasanya buku atau agenda saya penuh dengan coret-coretan yang tidak karuan.

#DWC30
#Squad 1
#Jilid 10
#Day21


Sabtu, 16 Desember 2017

Kuper Part 1

"Kiri Bang."Kataku ketika ujung gang menuju rumahku sudah mulai terlihat. Supir angkot pun dengan sigap melambatkan laju kendaraannya dan menepi. Kuberikan kepadanya beberapa lembar uang kertas seribuan dan langsung turun. Angkot pun melesat kembali. Aku tepat berdiri di ujung jalan menuju rumahku. Jalan yang lebih cocok disebut gang ini memiliki panjang 500 meter dan melewati deretean rumah yang berdempetan.


Beberapa meter sebelum menuju ada warung Bang Tohir. Biasanya jam-jam segini banyak yang nongkrong di warungnya. Semakin mendekat semakin terlihat ada kerumunan di sana. Beberapa remaja seumuranku sedang asyik berkumpul. Ada yang bermain gitar sambil bernyanyi, ada yang ikut-ikutan menyanyi, ada yang main kartu dan bersenda gurau. Semuanya dilakukan dengan ditemani kepulan asap rokok filter ke udara.

Ketika berpapasan dengan mereka aku berusaha tersenyum sambil mencari-cari wajah yang mau membalasnya. Satu dua orang ada yang membalasnya. Selebihnya asyik dengan aktivitasnya.
"Baru pulang San!"Rudi menegurku sambil melambaikan tangan. Dia salah satunya.
"Iya."Jawabku pelan.

Sudah begitu saja. Sebenarnya aku ingin lebih sekedar mengatakan "iya". Aku ingin mengatakan, "gua baru pulang sekolah. Hari ini gua melakukan apa. Hmmm sejujurnya aku ingin ditanya lebih banyak oleh mereka. Tapi kenyataannya hanya pertanyaan basa-basi. Seperti itu setiap hari. Padahal aku mengenal mereka. Terkadang aku ingin ada jalan lain menuju rumah tanpa harus bertemu dengan mereka.

Akhirnya sampai juga di rumah. Aku mencium tangan emakku dan langsung masuk kamar. Tas kuletakkan di atas kasur dan kubiarkan tubuhkan rebah di atas lantai yang dingin. Terasa kesejukan mengisi seluruh relungku. Panggilan emak untuk makan siang yang menjelang sore tidak kuindahkan.

Sambil mata terpejam aku terus merenung. Mengapa aku tidak ada tempat di mereka yang notabene adalah teman-temanku juga. Terkadang aku merasa terkucil dan tidak memiliki teman.

Akhirnya aku mendapatkan pembenaran. Aku memang tidak memiliki waktu untuk bergaul atau bermasyarakat. Semenjak aku memasuki SMA favorit di kota sebelah waktuku sudah tersita. Jam sekolah yang sampai sore, tugas dan pekerjaan yang cukup banyak membuat aku menjadi kuper. Hari sabtu? Kugunakan untuk mengurusi ekstrakulikuler di sekolah seharian. Hari minggu, waktunya istirahat dan untuk keluarga. Jadi praktis tidak ada waktu untu itu.

"Wah Lu sombong banget sih gak mau nongkrong San." Saudaraku yang beda beberapa rumah pernah mengkritiku."Orang tuh hidup harus bermasyarakat."
Aku hanya menjawab sambil senyum-senyum.



#DWC30
#Squad 1
#Jilid 10
#Day20

Kamis, 14 Desember 2017

Bapak Pergi Meninggalkan Nama

Gajah mati meninggalkan gading
Harimau mati meninggalkan belang
Manusia mati meninggalkan nama

Bapak saya adalah orang yang tidak disukai oleh sebagian murid dan gurunya. Ini bukan kabar burung atau isapan jempol belaka karena saya dan saudara-saudara saya sekolah di SD dimana bapak menjadi kepala sekolahnya. Jadi kami mendengar sendiri ceritanya.
"San, Bapak Lu lama banget sih kasih sambutannya." Protes teman ketika sedang upacara.

Kalau guru ada yang suka menyindir kelakuan bapak ketika mengajar. Mereka tidak tahu atau tidak mau tahu kalau ada anak-anaknya bapak yang menjadi muridnya. Yang paling parah ada yang berani mengatai bapak mabok.
"Ha ha ha pagi-pagi sudah mabok."
"Iya hahaha"
Dua guru pria mengatai bapak karena bapak pagi-pagi sudah marah-marah.

Memang bapak orangnya keras sama siapa pun yang melanggar aturan. Tidak peduli murid atau guru. Dia pernah menampar murid yang nakal, memarahi guru yang tidak disiplin, bahkan pernah ada guru yang dia usir dari kelasnya; di depan murid-muridnya sendiri karena guru ini sering tidak masuk tanpa alasan yang jelas.

Sejujurnya saya ada rasa malu melihat kelakuan bapak ini. Tapi bagaimana pun dia bapak saya. Semua cerita dan ejekan ini saya anggap sebagai angin lalu saja. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Dan akhirnya pun tiba. Bapak dipindahtugaskan ke sekolah yang lain. Sekolah yang lebih kecil dan lebih jauh. Sudah menjadi rahasia umum ketika mau mutasi biasanya orang kasak-kusuk agar dapat sekolah yang "gemuk". Bapak tidak mau melakukan ini. Dia siap ditugaskan di mana saja.

Saya kira akan ada pesta perpisahan yang  mengungkapkan kesenangan dan kegembiraan karena "sumber penyakit" akan segera pergi. Ternyata tidak ada sama sekali. Bahkan ada salah satu guru hater-nya yang minta bapak jangan pergi.
"Nah ini Kepala Sekolah kita. Bapak jangan pergi. Tetap aja  di sini."
"Enggak bisa. Emang ini sekolah gua."Jawab bapak dengan santainya.

Dan tahu tidak guru yang pernah diusir dari kelasnya itu? Dia pernah berkunjung ke rumah dan mencium tangannya bapak ketika pulang. Hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Dan kalau pun murid-murid Bapak banyak yang benci harusnya saya sudah jadi bahan bullying  ketika SMP, dimana sebagian besar lulusan SD kami meneruskan SMP yang sama.Ternyata tidak. Malah beberapa kali saya selamat dari pemalakan karena ada yang bilang, "Eh, jangan itu anak guru gua."

Dan kalau saya atau adik-adik saya main ke kampung murid-muridnya Bapak, selalu ada yang nanya, "Eh, ini anaknya Pak Rupid ya? Bapak sehat?".

Memang bapak orangnya keras tapi dia jujur. Dia tidak pernah korupsi, fisik bangunan sekolah selalu diperbaiki, guru-guru mendapat seragam gratis termasuk guru honorer (kalau di sekolah lain harus beli) dan kuota penduduk asli dijaga*

Dan akhirnya setelah semua itu yang tersisa hanyalah perasaan bangga di dada. Pak, maafkan anakmu yang pernah malu karena belum faham semuanya.

*dulu sekolah kami masih sebuah kampung.Tak lama banyak sawah digusur dijadikan perumahan;  pendatang mulai berdatangan. Bapak selalu menyisakan kuota untuk penduduk asli yang biasanya mendaftar di hari pertama sekolah. Beda dengan pendatang yang jauh-jauh hari sudah mendaftar. Konon kabarnya kebijakan ini tidak diteruskan oleh kepala sekolah yang baru.

#DWC30
#Squad 1
#Jilid 10
#Day19

Novel Yang Urung Diterbitkan

Biar jelek-jelek begini saya pernah membuat novel loh, namun sayangnya tidak jadi diterbitkan. Mengapa tidak jadi diterbitkan? Setelah saya baca-baca kembali novel saya ini terlalu tipis. Nanggung kalau disebut novel. Saya coba "membuat lebih tebal" namun tidak berhasil juga karena sudah tidak ada ide atau sudah jenuh.Dan akhirnya saya menyerah juga. Sekarang draft novel itu tersimpan di salah satu blog saya.

Perjuangan membuat novel itu cukup luar biasa menurut saya. Saya mengerjakannya di akhir pekan. Biasanya saya akan terbangun di jam 10 atau 11 malam setelah ketiduran menemani anak tidur. Dari jam 11 malam sampai subuh saya mulai menulis. Ini terus menerus dilakukan selama 3 bulan.

Judul novel itu adalah Jangan Membeli Kucing Dalam Karung. Ceritanya terilhami oleh suami istri pemilik rumah yang kami sewa. Sang istri sangat menyukai kucing. Bahkan pernah memungut kucing yang tidak terurus dari jalanan. Sedangkan suaminya, kebalikannya. Dia tidak suka sama sekali dengan kucing. Kalau istrinya tidak ada di rumah, dia suka mengusir para kucing dari dalam rumahnya. Namun uniknya dengan kombinasi bertentangan ini mereka bisa saling mencintai dan menyayangi. Ada hal-hal yang mereka sepakati bersama.

Dari sini saya kembangkan menjadi sebuah cerita. Ada pasangan suami istri yang baru menikah. Si istri sangat suka kucing dan si suami benci sekali kucing. Hal ini sebelumnya tidak mereka ketahui sebelum menikah, karena proses pernikahannya melalui jalur ta'aruf tidak pacaran. Mulailah pernak-pernik kehidupan dimulai yang semuanya berasal dari kucing. Singkat cerita akhirnya mereka bisa disatukan ketika kucingnya diambil orang. Dari sini mereka saling menghargai satu sama lain dan bisa hidup harmonis walau pun ada perbedaan.

Tanda-tanda novel itu tidak jadi diterbitkan adalah ketika draft-nya dibaca istri saya. Dia mengkritisi secara cerita. Ada pertanyaan-pertanyaan yang banyak sekali untuk dijawab. Secara istri suka membaca novel Michael Critchton dan Jhon Grisham dia menginginkan bobotnya seperti karya-karya kedua penulis ini. Akhirnya saya menyerah saja. Saya fikir, saya tidak cukup punya waktu untuk menjawab semua masukannya. Dan saya pun menyerah.

Sejujurnya saya masih menyimpan keinginan untuk membuat novel lagi. Beberapa ide cerita sudah ada. Namun saya masih mencari waktu untuk mengeksekusinya. Dan kalau sudah jadi mudah-mudahan yang ini bisa diterbitkan.

#DWC30
#Squad 1
#Jilid 10
#Day18

Selasa, 12 Desember 2017

Tukang Sulap Masuk Sekolah

Ada satu kenangan yang tidak akan saya lupakan ketika duduk di bangku sekolah dasar (SD): tukang sulap masuk sekolah. Sampai sekarang saya tidak mengerti kenapa para tukang sulap itu datang ke sekolah kami. Mereka mengadakan pertunjukan dan kami semua senang. Mungkin para tukang sulap ini mau mengikuti trend pembangunan di zaman Orde Baru. Ada ABRI masuk desa. Hakim masuk desa. Makanya ada tukang sulap masuk sekolah. Maksa banget.

Menurut saya tukang sulap masuk sekolah ini tidak lebih dengan merambah pasar baru dalam mengais rezeki. Mereka bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mengadakan pertunjukan dan mendapatkan bayaran.

Saya tahu mereka dapat bayaran karena seminggu sebelumnya para murid dimintai iuran oleh pihak sekolah. Prosentase berapa bagian untuk sekolah dan tukang sulapnya saya tidak tahu pasti. Bapak saya yang menjadi kepala sekolahnya tidak pernah bercerita. Tapi sepertinya sebuah hubungan simbiosis mutualisme. Buktinya hampir setiap tahun ada tukang sulap masuk sekolah.

Pertunjukan sulap biasanya diadakan pada hari sabtu setelah jam 9 pagi (zaman ORBA kegiatan sekolah dan bekerja belum ada yang 5 hari). Biasanya kami berkumpul di tanah yang lapang dekat sekolah. Dengan bermodalkan beberapa meja belajar dijadikan panggung dadakan para pesulap memainkan trik-triknya.

Para tukang sulap ini menyihir kami dengan kata-kata ajaibnya: sim salabim adakadabra. Setiap merapal mantra maka "keajaiban" terjadi (waktu itu belum ada Pak Tarno yang tenar dengan kata-kata : sim salabim prok-prok jadi apa!) . Kami yang belum pernah menonton acara magic biggest secret finally revealed terkagum-kagum sampai berfikir kalau ini adalah ilmu sihir.

Sulap itu palsu! Beberapa tukang sulap yang pernah pentas di sekolah kami selalu menyatakan itu. Ini untuk menegaskan bahwa sulap itu penuh dengan trik, murni kecepatan tangan dan permainan. Bukan ilmu sihir atau ilmu hitam. Untuk mendukung pernyataannya tukang sulap suka membocorkan trik sulapnya sperti permainan kartu, air yang berubah warna, benda menghilang dan trik-trik sulap sederhana lainnya.

Namun ada beberapa atraksi sulap yang saya fikir ada bantuan jinnya atau triknya yang sudah tingkat dewa sampai saya berfikir seperti itu. Pernah tukang sulap memotong-motong golong ke leher, lidah dan lengannya tapi tidak tergores sama sekali. Atau aksi yang lain dimana leher si tukang sulapnya diikat dengan tali dan ditarik-tarik penonton tapi tidak apa-apa. Mungkin ini kalau kejadiannya zaman now sudah viral di social media dan pihak sekolahnya kena teguran karena membiarkan anak-anak di bawah umur menonton ini.

Setelah semua atraksi selesai, kami semua merasa terhibur dan memang tukang sulap masuk SD ini hanyalah hiburan belaka. Dimana pada zaman saya SD hiburan masih sedikit, televisi masih hitam putih dan baru TVRI chanel-nya saja. Itu juga mulai jam 16.30.

Kalau mau mengkhayal, kegiatan tukang sulap masuk sekolah ini tidak hanya menghibur saja tapi juga menyulap warna merah di rapot menjadi biru, menyulap anak bodoh menjadi pandai. Ah, kalau ini mah para bapak ibu guru kami yang menjadi tukang sulapnya.


#DWC30
#Squad 1
#Jilid 10
#Day17

Kehilangan Anggota Keluarga

Pernah tidak kita kehilangan saudara kita atau anggota keluarga kita? Kehilangan di sini bukan berarti mereka menjadi korban penculikan atau hilang tidak bisa pulang. Kehilangan ini berupa ketika kita mendapati anggota keluarga kita berbeda antara yang kita kenal dan orang lain kenal.

Saya pernah mengalami baik itu saya yang "dianggap hilang" atau mendapati saudara yang berbeda citra antara di rumah dengan di luar rumah. Saya mempunyai saudara yang jarak usianya hanya terpaut satu tahun dan kebetulan mengenyam pendidikan di sekolah yang sama. Karena sekolah yang sama jadi saya bisa mengenal teman-teman adik saya.

Citra adik saya yang terbangun di antara teman-temannya dengan di rumah bisa bertolak belakang. Dia dikenal orang yang humoris, ramah dan banyak bicara. Namun kalau di rumah kebalikannya. Jarang bicara. Bicara kalau ditanya saja. Boro-boro membuat lelucon, dia mau bicara kalau ditanya. Kalau tidak ditanya tidak pernah keluar suara sedikit pun.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Kita kembali ke pengertian keluarga itu apa. Berdasarkan departemen kesehatan Republik Indonesia tahun 1988 keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Dari sini keluarga mempunyai ciri-ciri* :
1. Terdiri dari orang-orang yang memiliki ikatan darah atau adopsi.
2. Anggota suatu keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah dan mereka membentuk satu rumah tangga.
3. Memiliki satu kesatuan orang-orang  yang berinteraksi dan saling berkomunikasi, yang memainkan peran suami dan istri, bapak dan ibu, anak dan saudara.
4. Mempertahankan suatu kebudayaan bersama yang sebagian besar berasal dari kebudayaan umum yang lebih luas.

Setelah saya analisa mengapa kami pernah menjadi orang yang hilang atau kehilangan saudara sendiri ternyata penyebabnya di poin 3. Kami memang memiliki ikatan darah, berkumpul satu tempat. Namun interaksi dan komunikasi kita kurang. Kita lebih banyak berinteraksi dengan orang di luar rumah. Sehingga orang luar lebih mengenal kita dari pada anggota keluarnya sendiri. Hal ini bisa jadi karena waktu yang terbatas atau memang anggota keluarga tidak berperan dengan semestinya. Makanya pada satu acara keluarga, adik saya ini pernah curhat bahwa dia merasa keluarga ini dingin, tidak memberikan kehangan seperti yang ditawarkan di luar sana.

Kejadian ini menjadi bahan introspeksi diri kita semua. Mungkin orang tua kita yang merupakan produk lama memberikan saham dalam hal ini. Orang tua zaman dulu seperti itu: dingin, tidak ekspresif, jarang bicara. Tapi kita kita bisa menyalahkan siapa-siapa. Yang penting adalah kita berusaha mengembalikan anggota keluarga kita yang hilang. Kami mulai membuat sarana-sarana untuk membangun interaksi dan komunikasi sesama anggota keluarga. Arisan dan group whatsapp adalah satu upayanya.

Mudah-mudahan kita tetap bisa menjadi satu keluarga. Baik di dunia maupun di akhirat nanti. Dan jangan ada lagi yang menjadi anggota keluarga yang hilang.

#DWC30
#Squad 1
#Jilid 10
#Day16


Mengapa Kita Tidak Khusyuk Dalam Sholat

Sholat adalah salah satu media untuk mengingat Alloh Subhana Wa Taala. Namun ketika sholat yang muncul dalam ingatan adalah selain Alloh.

"Allahu Akbar" ketika kita mulai takbiratul ikhram. Tiba - tiba :

"Eh baru ingat, hand phone gua simpan di laci meja." Barang yang lupa disimpan entah dimana, tiba-tiba jadi ingat dimana letaknya.
"Eh, laporan bulanan buat boss belum kelar juga. Diapain lagi ya? Tinggal analisinya aja." Ingat sama pekerjaan yang belum selesai.
"Eh, bagus juga ya ini jadi ide tulisan?" Jadi pembaca tahu kan tulisan ini munculnya kapan hehehe.

Yang membuat heran, kenapa sih setiap sholat hal-hal seperti itu jadi teringat. Padahal enggak pakai niat.
"Aduh, dimana ya handphone saya? Sholat dulu ah, biar ingat." Enggak juga kan?
Yang saya tahu kan jadikan sholat itu sebagai penolongmu, bukan sebagai pengingatmu. Sholatlah maka kamu akan tenang. Bukan sholatlah maka kamu akan ingat.

Mengapa kita tidak khusyuk dalam melaksanakan sholat? Karena kita disibukkan oleh urusan dunia. Ketika kita takbiratul ihram kita tidak meninggalkannya. Makanya ketika sholat kita akan teringat akan hal-hal di luar urusan mengingat Alloh Subhana Wa Taala. Maka ingatlah handphone yang tempatnya dimana, kerjaan yang selesai dan lain-lain.

Padahal orang yang lalai dalam sholatnya adalah orang yang celaka seperti tertera di dalam Al-Quran.
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,“(QS Al Ma’un: 4-5). Dan kita tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa dari shalat itu sendiri. Baik manfaat di dunia maupun di akhirat.

Keuntungan yang diperolah dari sholat yang pertama adalah  sholat adalah menjadi indikator diterima tidaknya amalan-amalan lainnya.
“Amal yang pertama-tama ditanyai Allak pada hamba di hari kiamat nanti ialah amalan shalat. Bila shalatnya dapat diterima, maka akan diterimu seluruh amalnya, dan bila shalatnya ditolak akan tertolak pula seluruh amalnya.” (HR Ahmad, Abu Dawud)

Yang kedua sholat berfungsi mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Kalau kita sudah sholat, namun masih melakukan perbuatan keji dan munkar bisa jadi ada masalah dengan sholat kita. Sholat kita belum khusyuk.

Maka mulai dari sekarang kita berusaha untuk sholat dengan khusyuk.

#DWC30
#Squad 1
#Jilid 10
#Day15