Monday, September 24, 2012

Aku Merasa Keren karena Bisa Mengetik 10 (sepuluh) Jari

oleh : hasan abadi kamil

Sekali lagi aku merasa keren, karena bisa mengetik 10 jari. Sehingga dalam membuat tulisan bisa kelar lebih cepat. Itu saja. Karena aku tahu tak semua orang mau menulis apalagi dengan 10 (sepuluh) jari. Karena itulah aku merasa keren.

 

Terbayang seorang pria bercelana jeans dan kaos yang kedua – duanya lusuh. Mojok di kamar selepas sholat subuh menjelang siang mengetiki tuts keyboard komputer atau laptop. Merangkai huruf menjadi kata. Menyambungkan kata menjadi kalimat, menghimpun kalimat menjadi tulisan.Mengubah ide dalam kepala menjadi sebuah ide atau gagasan dalam bentuk cerita untuk disampaikan kepadamu.

Terasa sedikit narsis ketika ada yang bilang : tulisan Lu bagus. Keren.

Tuh, kan ada yang bilang saya keren karena bisa mengetik 10 (sepuluh) jari. Kalau saya keren, dia pasti tidak keren. Karena keren itu ada karena yang lain tidak keren. Walau pun aku tahu keren itu relatif (dan tidak keren itu mutlak), namun setidaknya pada waktu x, lokasi y aku pernah keren.

Gua Artis yang Pencinta Lingkungan

oleh : hasan abadi kamil

Kalau saya jadi artis yang cukup terkenal dan sedang naik daun pasti saya akan diundang untuk wawancara di sana sini dan mengisi acara musik pagi sambil berjoget bersama anak – anak alay. Tidak lupa tangan yang seperti menggulung benang mengikuti alunan musik.

Kebetulan selain seorang artis saya juga aktivis lingkungan. Mulai dari melakukan scuba diving di seluruh pantai dari Aceh sampai Papua dan mengkampanyekan naik sepeda kemana pun pergi. Dan kesukaan saya adalah ketika diwawancarai oleh Kick Andy.

“Mas Hasan, Anda ini selain dikenal sebagai artis. Anda juga dikenal aktivis pencinta lingkungan. Kira – kira apa yang mendorong Anda melakukan semua ini?” Kick Andy membuka dengan pertanyaan pertama.

”Begini Bang Andy. Mungkin jarang ya artis yang peduli lingkungan seperti saya ini.” Saya memulai menjawab pertanyaan. ”Ditambah lagi saya juga cukup dermawan. Setiap bulan ngasih makan anak yatim piatu. Nyumbang pendidikan di desa tertinggal saya enggak ngomong kemana – mana. Karena saya takut riya. Makanya saya enggak pernah cerita.”

”Kecuali ke saya sekarang.”Kick Andy memotong pemaparan saya.

”Iya, kecuali ke Bang Andy, plus dua ratus penonton di studio dan seratus juta pemirsa di rumah.” Jawab saya polos.

”Itu bukannya riya?”Tanya Kick Andy.

”Oh. Bukan. Itu mah tidak sengaja terkenal. Yang penting saya tidak mempromosikan diri. Kalau tiba – tiba orang tahu kiprah saya, saya tidak bisa berbuat apa – apa. Saya tidak bisa mencegah orang – orang, termasuk Bang Andy.”

Kalau ini bukan riya, lantas seperti apa riya itu?”Kick Andy jadi penasaran.

”Ya seperti Ria Rahmawati, teman kerja saya dulu. Sekarang dia sudah keluar karena ada kasus dengan atasannya.” Jawab saya.  ”Mmm...sampai mana ya? Oh ya jadi kalau di jalan ada orang minta tanda tangan dan foto bersama, saya tidak bisa menolak. Kan saya publik figur. Jadi saya harus kelihatan baik ke semua orang. Ngomong – ngomong Bang Andy mau tanda tangan saya atau mau foto bersama? Saya sudah siap pulpen dan kamera digital paling baru. Yang saya beli di e-bay.”

Sebelum Kick Andy menjawab, saya sudah pasang muka seperti anak alay. Rambut dimiringkan, mulut dimonyongkan 10 centi, dan tidak lupa tangan membentuk tanda victory. Jepret! Jepret!

”Maaf. Sesi pemotretan ada tersendiri Mas Hasan.”Kick Andy meredakan suasana.” Saya hanya ingin mengetahui niatan Anda dalam membela lingkungan.”

”Oohh, yang itu yah. Baik. Menurut saya lingkungan itu perlu dibela. Karena dia itu sudah menderita. Dicemari, dikotori dan dirusak. Kalau bukan yang membela, siapa lagi yang membelanya.”Jawab saya penuh semangat dengan kedua tangan mengangkat – angkat seperti meminta hujan kepada Allah SWT.

 

Kick Andy hanya manggut – manggut menjawab jawaban standar saya.

 

”Kira – kira apa yang mendorong Anda menjadi peduli lingkungan?”

”Hmmm...mungkin karena sudah dari kecil ya bakat saya di bidang lingkungan, eh benar gak sih ini termasuk bakat. Waktu kecil papah sering ajak saya ke pantai setiap week end. Waduh pokoknya pemandangan di sana cukup indah dan bagus. Pokoknya tidak semua orang bisa ke sana karena ongkosnya mahal. Terus sampai mana ya?”

“Sampai ke pantai setiap week end.”Kick Andy mengingatkan.

“Oooo..betul. kalau anak – anak lain mengumpulkan kerang saya mengumpulkan sampah. Terus papah saya lihat dan berfikir : wah anak ini kayaknya cocok jadi pemulung eh pencinta lingkungan. Kebetulan halaman rumah belum dibersihkan selama seminggu. Entar kalau pulang, biar dia gua suruh bersihiin. Begitu.”

”Kenapa Anda mengumpulkan sampah?”

”Saya juga tidak tahu ya. Mungkin karena memang sudah dari sananya saya bakalan menjadi aktivis lingkungan. Mengalir begitu saja seperti air.”

”Hebat ya Anda.” Kick Andy berkomentar.

”Sudah tentu.” Jawab saya.

”Katanya Anda juga naik sepeda kalau kemana – mana?”

”Iya.”

”Apa alasannya?”

”Saya naik sepeda itu selain untuk sehat, tidak mencemari lingkungan juga menghemat BBM.”

”Wah hebat sekali. Ngomong – ngomong jarak terjauh yang pernah Anda tempuh. Kemana?”

”Paling lima ratus meteran. Ke Indomaret dekat rumah. Kalau jalan kaki kan malas dan jauh.”

”Oooo.... terus kalau Anda ke kantor, ke tempat syuting naik apa?”

”Naik mobil Bang Andy. Diantar sama supir. Gempor atuh kalau naik sepeda.”

Thursday, September 20, 2012

Saya Tidak Sehebat Itu

oleh : hasan abadi kamil

Sesungguhnya saya tak terlalu pandai menulis. Terutama tulisan - tulisan serius; berbobot dan bernilai guna. Boleh dibilang jarang sekali mengeluarkan sebuah tulisan mengusung sebuah ide yang brilliant atau kompleks dengan penyajian yang begitu mudahnya. Sampai - sampai tukang becak pun bisa mengerti.

Menulis pasti berkawan erat dengan membaca. Karena saya tidak bisa membuat tulisan yang dimaksud di atas karena memang otak saya begitu sederhana lipatan - lipatannya jadi kalau membaca referensi yang susah - susah seperti buku - buku filsafat atau yang tebal - tebal, gak pernah mengerti. Suatu saat saya terkagum - kagum ketika seorang teman berkata ketika dia membaca buku Pergolakan Pemikiran Islam-nya Ahmad Wahid, sambil menegasi beberapa statement-statementnya. Kalau saya, membacanya seperti membaca sebuah novel :). Lewat begitu saja. Bahkan dalam beberapa hal ada beberapa buku baru bisa saya mengerti ketika saya membaca buku yang membahas buku tersebut :).

Kalau pun aku menuliskan sesuatu yang rumit itu semata - mata biar keren - kerenan saja, dah boleh dibilang saya hanya "menceritakan ulang" dengan penuh dempulan di sana - sini. Boleh dibilang saya hanyalah tukang cerita yang sekali lagi masih dipertanyakan kualitasnya.