Sunday, June 30, 2019

Pergilah Kamu Bertebaran Mencari Order di Muka Bumi

Bila sedang berkendara menggunakan ojek daring, biasanya saya mengajak ngobrol dengan pengendaranya. Hitung-hitung untuk memecah kebisuan. Rasanya aneh kalau dua orang yang bersama-sama dalam satu waktu dan satu jok, tetapi tidak ada komunikasi yang tercipta. "Main diam-diaman" saja.

Untuk memulainya saya mengajukan beberapa pertanyaan. Di ojek daring full time atau sampingan? Kalau full time, sebelumnya bekerja dimana? Setelah itu sisanya sang pengendara akan bercerita sepanjang perjalanan. Saya hanya tinggal mendengarkan sambil sesekali bertanya berdasarkan ceritanya.

"Tinggal dimana Pak?"Tanya saya.
"Kalideres."
"Wah, jauh ya."Saya sedang menaiki ojek dari Blok M menuju Jl. Swadharma daerah Jakarta Selatan.
"Namanya juga ikhtiar Pak. Orderan dimana aja kita kejar."
"Iya Pak."
"Awalnya saya mangkal cuma mau ambil order sekitaran daerah saya aja. Kalau jauh sedikit saya enggak ambil. Kalau sudah nganter penumpang saya balik lagi ke tempat mangkal. Sambil menunggu biasanya nongkrong sama teman-teman. Lama-lama saya mikir juga, kalau di sini-sini aja enggak seberapa dapetnya. Abis itu saya mau nerima order yang bukan daerah saya."

Saya hanya manggut-manggut mendengarkan ceritanya.

"Tapi nongkrong ama temen-temen malah bikin kita males. Kalau ada orderan masuk bunyi ke hape saya ada yang komen santai dulu, masih pagi ini. Ada juga yang bilang kayak bakalan ada orderan lagi. Abis itu hape saya matiin (maksudnya di-mute). Jadi kalau ada orderan saya pergi. Nanti kalau teman saya nanya: mau kemana? Saya jawab mau BAB (Buang Air Besar-penulis). Abis itu saya enggak mau nongkrong di situ lagi. Saya pergi kemana aja orderan didapat."

Wah, sang pengemudi ini. Perintah merantau itu ternyata berlaku juga untuk para tukang ojek. Pergilah mengambil order, jangan hanya di kampung sendiri.
"Abis itu, saya mulai pengaruhin teman-teman yang lain. Saya bilangin, kalau nongkrong aja hasilnya enggak seberapa. Nanti di rumah ada yang bakalan nyap-nyap. Nah mulai deh satu demi satu mulai ninggalin tongkrongan. Tinggal yang tua-tua aja. Kalau itu mah saya enggak berani nasihatin."

Hebat sekali Si Bapak ini, bisa menularkan kebiasaan yang baik ke teman-temannya.
"Tapi Pak temen-temen yang di tongkrongan itu perhatian juga."
"Perhatian apa?"
"Saya kan bilangnya mau BAB. Eh, sorenya dia nanya kok Lu BAB lama banget?"
"He he he he." Saya dan si bapak tertawa bersama-sama.


Saturday, June 29, 2019

Competive Adantage Ojek Daring

Di mata saya competitive advantage seorang ojek daring adalah mengetahui rute ke rumah saya tanpa melewati daerah merah. Daerah merah adalah daerah dimana para ojek pangkalannya masih belum menerima keberadaan ojek daring; masih suka sweeping. Biasanya kala pengemudinya tidak terlalu paham akan bereaksi seperti ini begitu tahu tujuannya.
"Maaf di-cancel aja ya. Itu masuk jalur merah."Kalau ini yang to the point reaksinya.
"Paling bisa mengantar sampai pangkalan ojek Padasuka."Yang ini memberi "win-win solution". Biasanya saya cancel.
"...........". Yang ini motornya tidak bergerak sama sekali. Langsung saya cancel juga.

Alamat rumah saya terletak di daerah Bumi Asri, Padasuka. Untuk mencapai ke sana bisa melalui tiga rute perjalanan. Setidaknya yang saya tahu. Pertama lewat rute Bojong Koneng Atas, terus belok kanan ke jalan Sekemerak. Sisanya tinggal diikuti. Kedua adalah melalui jalan Terusan Cimuncang. Lurus aja, nanti belok kanan. Dan terakhir lewat jalan Padasuka. Nah, jalan Padasuka ini yang masuk jalur merah. Di pangkalan ojeknya terpasang spanduk yang jelas-jelas menolak keberadaan ojek daring di areanya.

Pada awalnya saya suka meyakinan para pengemudi ini yang keberatan membawa saya ke tujuan. Saya sampaikan bahwa selain jalan Padasuka bisa lewat rute seperti yang saya sebutkan di atas. Makin ke sini, saya makin tidak bersemangat. Begitu ada tanda-tanda keberatan, langsung saya cancel. Masih ada pengemudi lain yang sudah tahu bagaimana menuju rumah saya terbebas dari jalur merah.

Mungkin begitulah hidup (sok bijak) kalau kita tidak terus membekali diri dengan kemampuan bisa ketinggalan. Untuk sekelas ojek saja perlu meningkatkan pengetahuan rute-rute yang bersahabat

Tuesday, June 25, 2019

190625

"Pak, mohon maaf. Bisa tidak saya ikut tes susulan. Saya bangun kesiangan."
Sebuah pesan masuk ke dalam HP saya. Seorang calon pelamar minta dibuatkan tes susulan karena kesiangan. Saya  tidak menjawab pesannya. Dan mudah-mudahan dia tahu jawaban saya. Bagaimana mungkin untuk hal yang terkait masa depannya dia tidak mau "susah-susah". Saya akan menerima kalau dia bilang sakit atau mengantar ibunya ke rumah sakit. 

Untuk dirinya tidak mau bersusah-susah apalagi untuk perusahaan. Begini menurut fikiran saya. Maaf Anda sudah tidak lolos sebelum Anda mengikuti tes di tempat kami.

Sunday, June 23, 2019

Kupat DIbawa Mobil Freed

Dekat rumah saya ada tukang kupat tahu yang lumayan enak. Posisinya versis di pintu masuk ke kompleks pertokoan Surapati Core dari arah Jalan Padasuka.

Kalau saya bilang kupatnya itu the best (setidaknya menurut saya) karena tidak terlalu lembek dan keras; pokoknya pas.

"Pak ini pake pengawet enggak?"
"Enggak. Makannya kupatnya cuma bertahan 2-3 hari saja."
"Kok bisa kupatnya bagus seperti ini?"
"Ini berasnya memang khusus yang buat kupat. Bilang aja ke tukang beras, minta untuk yang biasa kupat. Harganya juga lumayan"
"Oooo. Sehari bisa abis berapa Pak?"
Dia berhenti sejenak. Melihat besek yang berisi kupat yang siap dipotong-potong.
"Bisa seratus."Maksudnya seratus besek. Selain untuk berjualan, banyak tukang kupat tahu yang mengambil kupatnya ke dia. Dan saya juga pernah ketemu tukang kupat tahu yang belum bisa melayani karena pasokan kupatnya belum datang.
"Itu sisanya masih di mobil?"Katanya sambil menunjuk mobil Freed yang diparkir tidak jauh dari tempat mangkalnya.

"Gila! Mobil Freed buat bawa kupat!" Kata saya dalam hati.

Bahkan dalam kesempatan lain,  kupat tahu dibawa oleh mobil dia yang lain : Daihatsu dan Timor. Wah, ternyata jadi tukang kupat tahu makmur juga ya.

Friday, June 21, 2019

Percakapan Suatu Waktu

Pada suatu waktu, istri menumpahkan kekesalannya via whatss app. Dia mempersoalkan mengapa setiap persoalan rumah tidak muncul di hari sabtu minggu, ketika saya sedang ada di rumah. Persoalan pompa ngempos tidak menarik air dari tanah, kran kamar mandi patah, dan yang lainnya muncul di hari kerja. Sepertinya persoalan-persoalan itu paham benar kapan saya ada di rumah kapan tidak.

"Mungkin Alloh sedang mempersiapkan "sesuatu" untuk Ibu." Saya mencoba menghiburnya."Ayah selalu berdoa agar Ibu selalu kuat dan sabar."
"Enggak mau. Ibu enggak mau ditinggal dulu sama Ayah. Kalau ibu bisa mengerjakan semua, berarti ayah sudah tidak ada." Dia takut Alloh menyiapkan dia untuk hidup sendiri, karena saya harus menghadap-Nya lebih dulu.
"Bukan itu. Ayah selalu berdoa bisa mencapai usia seratus tahun. Mau menunggu Abang." Abang adalah sebutan anak laki-laki, anak pertama kami. Anak kami ini dianugerahi ADHD. Saya selalu berdoa bisa meninggalkan dia kalau dia sudah mandiri dalam hidupnya. Dan saya sama istri sudah "bersepakat" kalau saya tidak boleh mati sebelum istri saya. Karena istri saya akan merasa sedih sekali saya yang meninggal lebih dulu.

"Maksud ayah, Alloh mempersiapkan "sesuatu" buat Ibu siapa tahu ayah jadi Walikota Bandung hehehe. Masak enggak elit kan ketika ada kunjungan presiden, ayah lagi mancing pompa yang ngempos."

Thursday, June 20, 2019

Maaf, Di-cancel Aja

Suka paling sebel sama pengemudi ojek online yang galau enggak jelas. Ketika kita order dan ada yang mengambilnya namun posisi pengemudinya tidak bergerak sama sekali. Di aplikasi icon motornya masih di titik awal. Dan parahnya baru membalasnya kalau di-chat.

"Pak, jadi diambil tidak?"
"Maaf. Enggak, di-cancel aja."

Yeee. Kenapa enggak bilang dari tadi. Sudah menunggu cukup lama. Biasanya alasan mereka tidak mau ambil umumnya karena daerah jemput atau tujuannya masuk zona merah (zona dimana ojek online dilarang oleh para ojek pengkolan), Namun ada juga alasannya lupa membawa jaket, jadi kedinginan. Ada-ada saja.

Yang membuat saya tidak mengerti adalah, ketika mereka mengambil order apakah tidak dibaca dulu lokasi jemput dan tujuannya? Yang lebih kesel lagi kalau tanya jemput dimana? Apakah benar-benar mereka memperhatikan gawainya?

Kalau sudah begitu, kalau cuaca sedang mendukung dan angin cukup kencang, saya cancel sambil mengumpat.

Tuesday, June 18, 2019

Bedanya Ojek Online di Bandung dan di Jakarta

Berdasarkan pengalaman, sebagai pemakai setia ojek online saya berani menyimpulkan perbedaan antara pengemudi ojek online di Bandung dengan di Jakarta. Maklumlah saya termasuk salah satu anggota dari komunitas PJKA, pulang jumat kembali ahad (minggu); tinggal di Bandung, mencari uang di Jakarta.

Perbedaan yang utama adalah respon kalau penumpang membayar tarif lebih dari yang seharusnya. Misalnya tarifnya 14 ribu, kita membayarnya 15 ribu. Kalau pengemudi ojek online Bandung, pada umumnya akan mengkonfirmasi kelebihannya. "Pak ini uangnya lebih atau Pak ini kembaliannya." Sedangkan yang di Jakarta, pada umumnya, langsung memasukkan ongkosnya tanpa mengkonfirmasi kalau uangnya kelebihan. Sepertinya mereka sudah paham kalau mereka mendapatkan tip dari penumpang.

Pelit atau Dermawan?

Hanya dengan memilih provider ojek online kita bisa jadi orang yang pelit atau orang dermawan. Operator ojek online A menetapkan tarif 20 ribu sedangkan operator B menetapkan 18 ribu untuk tujuan yang sama. Tidak peduli  operator yang dipilih, kita berencana membayar sebesar 20 ribu. Silahkan dipilih, mau jadi apa kita. Seorang yang pelit atau dermawan. 




Monday, June 17, 2019

#

Seorang nyonya muda syok. Pembantunya didapati hamil di luar nikah. Ia yang sehari-harinya bekerja di sebuah perusahaan FMCG.
"Siapa yang menghamili kamu?"
"Pacar saya, Bu."
"Alhamdulillah", kta si nyonya dalam hati. Minimal bukan suaminya yang berbuat. Di balik bencana ini masih berhembus angin segar.

190617

"Mas, ada indo***"
"Ada. Mau rasa apa?"
"Adanya rasa apa?"
"Banyak."
"Rasa sambal matah?"
"Enggak ada."
"Rasa ayam geprek?"
"Gak ada."
"Adanya rasa apa?"
"Yang biasa."

Kalau begitu jangan bilang banyak.

Thursday, June 13, 2019

Blog Baru: https://karyawankantoran.blogspot.com

Sudah lama saya memendam keinginan ini. Saya ingin membagikan kisah-kisah saya selama bekerja. Tentunya ceritanya teramat sederhana, namun ada hikmah yang bisa diambil. Minimal isinya menghibur siapa saja yang membacanya. Semua cerita itu saya tuangkan dalam blog yang berjudul https://karyawankantoran.blogspot.com.

Oh, ya soal penamaan blog ini ada yang menarik. Awalnya saya mau kasih nama https://oranggajian.blogspot.com. Mengapa saya memilih nama ini, karena namanya lebih luas. Karena selama saya bekerja saya pernah di pabrik dan di kantor pusat. Jadi sebagi orang gajian bisa mewakili pengalaman di dua tempat tersebut. Namun apa daya, waktu didaftarkan di blogger.com sudah ada yang punya blog ini. Akhirnya saya pakai nama karyawan kantoran (KaKa). Walau pun terkesan hanya di kantor saja, tapi menurut saya lebih baik dari pada nama-nama lain.

Sebelum saya memposting cerita-cerita saya ini ada beberapa hal yang harus saya taati. Pertama saya tidak memposting rahasia perusahaan. Yang kedua saya tidak memposting di poin satu hehehe. Alasan membuat ketentuan ini adalah karena saya masih bekerja di sini. Oh jadi kalau sudah tidak bekerja di tempat sekarang, bakal memposting yang enggak-enggak? Ya, enggak juga sih.

Baiklah saya cukupkan promosi blog baru saya ini, silahkan teman-teman berkunjung ke link ini.

190613

Sekali-kali ngomongin orang ah...hehehe. Saya punya teman yang salah satu perilakunya unik di mata saya. Minimal di mata saya. Apakah perilakunya tersebut?

Perilakunya yang unik ini adalah dia suka mengomentari orang yang mengajukan pertanyaan ecek-ecek. Masak yang beginian ditanyain sih, begitu komentarnya. Padahal di lain kesempatan teman saya ini juga suka mengajukan pertanyaan ecek-ecek. Jadi moral story-nya adalah jangan pernah menghakimi pertanyaan orang. Se-ecek-ecek pertanyaannya. Itu saja.

Wednesday, June 12, 2019

Untuk Istriku

Saya dan istri merupakan pasangan yang unik serasi. Satu sama lainnya saling melengkapi, saling mengisi, saling menyempurnakan.

Yang kalau diungkapkan dalam kata-kata : engkau adalah kepingan yang tidak sempurna, untuk melengkapi aku sehingga dua kepingan yang saling menjadi terlihat sempurna.

Yang kalau diungkapkan dengan perumpaan, saya adalah pria awan dan dia adalah perempuan setelah hujan. Saya mengklaim pria awan, karena menyukai gerombolan awan putih yang suka menjelma menjadi bentuk-bentuk yang luar biasa. Dia menyukai setelah hujan, karena suaranya yang terdengar nyaman menenangkan di telinga. Maka pria awan mendekati perempuan setelah hujan, terbitlah pelangi warna-warni yaitu anak-anak kami.

Hanya orang aneh yang mencintai orang aneh. Jawab saya, ketika dia mengatakan dia orang  merasa aneh. Dan di saat itu kami merasa dunia ini hanya milik kami berdua, dengan perasaan yang hanya kami saja cukup mengerti. Yang lain tidak.